Ketika toleransi sudah terucap, terkadang tanpa kita sadari ada hak asasi yang tertindas olehnya. Padahal suatu toleransi tentu saja ditujukan agar tidak ada hak asasi yang terinjak oleh kelakuan orang lain. Sakit hati ini ketika harus mengetahui suatu kebaikan bisa dengan mudahnya berubah menjadi sebuah pisau yang amat tajam, yang bisa menujam tubuh ini dengan mudahnya dan mengoyaknya tanpa belas kasihan, hanya karena suatu sudut pandang yang berbeda. Suatu sudut pandang yang subjektif, suatu sudut pandang dimana tak ada seorangpun yang sanggup menyalahkan dan membenarkan karena kebebasan setiap individu untuk membenarkan apa yang sudah menjadi opininya. lantas benarkan jika kita melakukan toleransi di saat kita menghadapi masalah?
Teringat perkataan sesorang tentang sesuatu yang dinamakan toleransi,
A: "Orang Jawa itu mesti main toleransi ke orang ya, gag kaya orang china yang gag pernah pandang bulu ketika menghadapi orang yang sudah melanggar apa yang telah menjadi haknya. Yang bener yang mana sih?"
B: "Toleransi itu terkadang sangat merugikan manusia, kita bisa menjadi budak dan tertindas karena sesuatu yang dibilang toleransi. Kita hanya bisa melihat orang terbunuh di depan kita ketika kita bertoleran terhadap sang pelaku, ketika aku tak mengedepankan toleransi, mungkin aku sudah lebih dulu membunuh orang yang akan membunuh orang itu."
Setelah mendengar itu, rasa sesak kembali menujam jantungku. Sudah benarkah apa yang kulakukan, sudah benarkah toleransi yang aku yakini? Hingga tersadar olehku tentang berbagai hal yang telah direnggut paksa oleh sesuatu yang dinamakan toleransi. Zona nyaman...ya, zona nyaman yang selalu membuatku nyaman dan sangat bertahan dari segala kesulitan hidup kini mungkin telah tiada. Zona nyaman yang dulu adalah suatu lingkaran yang amat besar, dengan adanya toleransi, kini zona nyaman itu hanya menjadi sebuah titik. Sebuah titik yang tak sanggup lagi membuatku nyaman dengan segala masalah ini hingga aku sempat berfikir bahwa satu-satunya tempat nyaman yang bisa kuraih adalah ketika melepaskan diri dari kehidupan ini. Hati ini akan terus tersayat, dan hanya meninggalkan luka dan rasa sesal. Tak ada lagi jalan tengah yang bisa menyelesaikan ini semua karena zona nyaman yang dulu tempatku untuk menenangkan diri dan hati kini hanya menjadi sekedar titik yang bahkan tak sanggup menemukan pemecahan dari smua masalah klasik manusia yang disebabkan oleh sebuah hal yang bernama toleransi. Kini, satu-satunya jalan yang dapat kulakuakn untuk membuatku sedikit melupakan rasa sakit dan sesal adalah sebuah tangisan, tangisan yang mengantarkanku ke dalam tidurku, selalu.
Miss you so much my lovely 'zone of freedom'.

0 comments:
Posting Komentar