Ketika kita mendengar kata sampah, pasti yang kita bayangkan adalah bau busuk dan sesuatu yang menjijikkan. Tapi hal yang berbeda akan disampaikan bila kita bertanya pada orang setiap harinya bergelut dengan barang sisa dan bau tak sedap itu.
Mengais rezeki dari apa yang telah dibuang oleh masyarakat. Menahan bau busuk yang menusuk hidung dengan harapan masa depan untuk keluarga dan anak mereka. Walaupun dengan upah yang bisa dibilang kurang untuk menghidupi keluarga di jaman modern ini, mereka tetap berusaha keras, menarik gerobak sampah yang penuh dan berat dan harus berjalan jauh pula untuk mencapai TPA tempatnya menyetor sampah.

3 November 2011, tak sengaja aku berpapasan dengan seorang tukang sampah yang sedang menarik gerobaknya saat berkendara di jalanan pulang menuju rumah. Saat itu jalanan sedang gerimis, maklum akhir-akhir ini hujan mulai turun rajin di kota ini. Setelah melewati beberapa meter, tak dapat ku rasa lagi air hujan menetes di kaca helm, akhirnya kuputuskan untuk melepas mantel hujanku dan menepi di depan SMPN 39 dan melipatnya. Saat sedang melipat mantel, tukang sampah yang sempat berpapasan denganku tadi kini berjalan melewatiku, dengan berjalan perlahan dan terlihat keberatan saat menarik gerobak sampahnya yang sudah penuh dengan sampah.
Saat itu terlintas dalam benak, daerah sini mana ada TPA, yang aku tahu TPA di sekitar itu ada di jemur sari yang jaraknya lumayan jauh, dengan motor saja paling tidak butuh waktu 15 menit untuk mencapainya. Di malam yang dingin (saat itu pukul 20.30), di saat orang-orang sedang berkendara menuju rumah untuk mendapatkan kehangatan dan kenyamanan di tempat tidur, yang dilakukan oleh tukang sampah itu adalah menarik gerobak sampahnya yang telah penuh, meski berat dan kesusahan.
Hanya ingin sekedar mengingatkan, mungkin selama ini kita menganggap bahwa pekerjaan menjadi seorang tukang sampah adalah pekerjaan rendahan dan menjijikkan. Namun, apakah kita pernah menyadari, jika dunia tanpa pasukan kuning, dunia akan menjadi seperti apa?? Sudah dapat terbayang setinggi apa tumpukan sampah yang ada di depan rumah kita, sebau apa udara di sekitar kita.
Mereka mungkin dianggap sebagai seseorang dengan derajat rendah dan pekerjaan yang jorok, tapi hal itu bukanlah satu penilai mutalk untuk mereka. Karena menurutku, seorang pasukan kuning/ tukang sampah adalah seorang pahlawan yang membantu kita untuk menjaga lingkungan ini, menjaga kebersihan lingkungan ini agar kita tak terganggu dengan bau tak sedap. meski dengan gaji yang rendah.
Salam penghormatan untuk para penjaga kebersihan negriku.